Selasa, 26 November 2013

*Lanjutkan Perjuanganmu


Si kurus masih tetap melanjutkan kisahnya, ia masih termenung di gubuk derita sendiri didalam kebisuan. Dibalik dinding bercat kayu yang gelap-gulita dalam waktu seketika, menjadi terang benderang oleh cahaya berwana biru yang keluar dari balik genggaman tangan kananku. Cahaya ajaib apa ini sehingga menyilaukan mata, setelah aku buka ternyata ada sebuah gelang kecil yang terbuat dari batu berbentuk seperti biji-biji kenari.

Gelang itu sangat harum, setiap kali aku pelintir satu persatu, biji itu mengeluarkan serpihan cahaya beserta semerbak harum cendana bercampur kasturi. Aroma misik harum yang melekat itu selalu mengajak hayalan kita ikut memeperlihatkan pada ketenangan hati.

Aku yakin pengalaman tadi bukanlah bunga tidur semata, setelah aku lihat memang waktu sudah menunjukan pukul 22.31 WIB, sebaiknya aku segera mengenakan gelang tersebut dan kembali melanjutan tidur untuk menyabut hari yang cerah di pagi hari, serta berharap aku dapat ketemu kembali dengan si pemberi gelang yang indah ini.

Kenyataan memang sangat jauh dengan harapan ternyata hari sudah terlalu pagi, selimut yang tebal, kasur yang empuk dan beberapa bantal yang hangat, hingga saat ini tak mampu membendung mataku yang tetap terjaga, dalam benakku hanya tergambar sebuah senyuman beserta kejadian yang barusaja aku saksikan. Memang sungguh pengalaman yang indah, aku selalu berharap Yang memberikan gelang tasbih ini dapat mengantarku ku kembali kedalam buaian tidur lelapku sambil mengusap kepala dan mengatakan kepada diri ini tidurlah besok masih ada waktu kembali untuk kita jumpa.

Kepenatan sehari-hari memang terlalu banyak menyita pikiran, tenaga dan seluruh asfek kehidupan pribadi, semua omong kosong mengenai karir dan kesuksesan seakan membodohi kita dengan rangkulan senyuman.

Tapi sayang terkadang kita melupakan jati diri pribadi, seakan tidak memperdulikan saudara kita yang berada didalam jasad. Tubuh memang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi saudara tubuh yakni batin juga memerlukan kehangatan tersendiri.

Kita tidak bisa menolak jika keinginan tubuh mesti dipenuhi, tetapi kita kerap kali mengeyampingkan keinginan hati untuk dimanja. Ketika kedua kekuatan tersebut bergejolak, maka akan ada perbedaan mencolak didalam diri kita.

Hati akan menjadi musuh didalam tubuh, karena mereka kerap kali kita lupakan. Harus ada jalan keluar yang mesti kita perbuat dalam mendamaikan kedua kekuatan ini. Kita harus membagi waktu untuk mereka berdua, kita harus bertindak propesional jangan sampai waktu mereka saling tumpang tindih sehingga saling bergesekan.

Angan-angan bukan hanya sebuah bualan belaka, tetapi kita dapat mempergunakan mereka sebagai alat menuju masa depan. Seluruh karya besar memang tercipta hanya dari sebuah lamunan.


Penulis : Alur cerita pada cerita ini dikembalikan kepada hayalan penulis sebelumnya, dibalik dinding bercat kayu yang memimpikan sesuatu kekuatan ajaib. Tetapi perubahan alur cerita ini tidak mengurangi dari pesan yang akan disampaikan oleh penulis sendiri agar tetap meneruskan karyanya.

Kekuatan didalam diri sendiri kadang kala terlupakan ketika kita melihat takjub dengan kekuatan atau kemampuan orang lain, disaat mereka berjuang. Kita harus terus berjuang agar kemampuan diri kita tidak terpendam, sehingga mengatakan akan sesuatu itu saya tidak mampu.

Intusi dan kreatipitas tidak terdapat pada orang lain melainkan terdapat pada diri kita sendiri. Jadi insfirasi merupakan modal awal kita untuk menggapai tujuan. Kebanyakan insfirasi berasal dari pimikiran kita yang terlintas yakni bermula dari hanya sekedar angan-angan dan lamunan.

Untuk menggapai tempat yang tinggi tentu anda harus menyusun alat pembantunya, mungkin itu tangga atau membuat susuna batu bata, sama halnya dengan kehidupan untuk mengapai tujuan anda harus memulai menyusun batu dari bawah.

Senin, 25 November 2013

* 40 Malam Terakhir


Kendati telah disambangi rekan karibnya sikurus masih saja tidak brgeming, ia seakan ingin mengulangi semua peristiwa menembus batas. Kakinya ia ikat agar tidak bergerak, tanganya ia kunci agar tidak terlepas, mulutnya mengering karena sudha lama tak terkena hujan, dan tubuhnya membara karena terlalu lama terbakar di malam-malam kelam.

Kini langhkah nyata mulai terbuka, didalam kesekaratanya untuk menggapai impian, si kurus secara tidak sengaja telah melewati ruang dan waktu. Ia juga kembali memasuki alam yang berbeda, untuk membalas sifat penasaran dan keinginan bertemu kepada pemilik gelang biru.
Kibaran selendang hijau itu kini berada diatas sekujur tubuh, si kurus dengan mantra pemikat membuat semua manusia telanjang terjerat cemas, tak seperti yang dibayangkan, selendang hijau telah sangat rapat mengerubungi tubuh, secepat kilat selendang hijau meremas erat raga sikurus bersama tulang belulangnya.

Tibalah si kurus dengan ribuan pandangan aneh, tenggorokanya terasa terbakar, kakinya seperti dipaku, badannya berduri tak bergerak karena tulang yang rapuh seperti barusan digergaji. Ia hanya menegadah keatas, pandanganya melangit beserta panas mentari yang sangat menyengat.

Ia berusaha bangkit, melihat kanan dan ke kiri dengan pandangan tajam yang hampir mati, Matanya terbelalak karena hanya melihat negri tandus tak bertuan. Ia terus merangkak, berusaha menjangkau tempat sekedar untuk bernaung.  Ia berjuang karena sangat panas di negri gurun ini, setiap jengkal genggaman tanganya hanya meraih debu dan serpihan pasir yang berterbangan.

Bukit pasir itu terlalu jauh untuk digapai, terlihat bayang-bayang semu awan  hitam sedikit gelap berada dibawahnya. “Air-air” teriak si kurus tak bertulang, merayap mengelepar di bawah angin berdebu tak berbelas, ia ingat selendang hijau yang bertuan. Kakinya tersangkut terjerat selendang hijau yang terkubur dibawahnya, ia menggapai si hijau berusaha menutupi muka akibat sengatan mentari.

Si kurus berkata, “Bawalah aku ketempat yang teduh dibawah kaki bukit itu, semoga tuhan masih menyertai kita,” kepada si hijau yang ditutupkanya ke muka. Selendang hijau selalu patuh, ia cepat membawa si kurus muda agar tak mati dalam sekejab. Gerakan selendang hijau sangat gesit ia melebar memanjang dan membentang menyerupai lapangan rumput yang hijau, menaungi si kurus yang terkapar akibat terlalu lemah untuk merayap, di dinding pasir berbukit yang baru ia kenal.

Si kurus mulai tersadar, posisinya belum mencapai bukit, tetapi mendung hijau masih tetap memayungi menjaga tubuh si kurus agar tak dimakan mentari. Ia tertunduk lesu, mencari sesuatu untuk membasahi tenggorakan serta tubuh. Di panggilnya si hijau yang berada diatas, agar turun dan mengantarkanya ke perbatasan bukit, sambil berharap menemukan sedikit kayu berduri yang cukup basah.

Satu persatu batang duri dipatahkan, ternyata memang ada tetesan air yang bisa sedikit menguatkan, ia rasa tanganya sudah mulai kaku, akibat banyak duri menjepit diselah sarap lapisan ari dibawah pori-pori. Tak masalah darah mengalir, asal bisa bertahan dalam beberapa waktu. Si kurus kini sudah bisa berdiri, memerintahkan selendang hijau agar cepat terbang mencari sumur air, diselah bukit-bukit batu yang berdebu.

Selendang hijau membentang menjadi tunggangan sikurus yang hampir tak bernyawa, ia membesar membentuk cerobong seperti tumpeng nasi, didalamnya meronga sehingga si kurus bisa berteduh dan masuk kedalamnya, ujungnya mulai menutup, menjaga agar debu tak masuk, selendang hijau melucur bagaikan rudal menembus gurun dengan sekali pintas.



PENULIS :ini hanya kilasan cerita saja, tidak banyak mengandung pembahasan.

Sebetulnya penulis hendak mengjabarkan begitu sulitnya pengorbanan dan perjuangan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Tetapi jalanya takdir tidak bisa di perkirakan begitu saja, meskipun tanpa perbekalan yang cukup maupun persiapan sebelumnya, anda dapat memastikan kekuatan tuhan selalu melindungi kita.

Kadang kala ketika kita sedang berjuang keras untuk mendapatkan sebuah keinginan, kita malah terjatuh tersungkur sehingga sering kali membuat kita kalah sebelum medapatkan kemenangan.



Break Sesion.2

“Penulis” Apa owe bilang kalo punya cita-cita jangan tinggi-tinggi amat, iye kagak ? kalau jatoh bisa-bisa tewas gan! Jadi orang tu biasa-bisa aja kalo kerja kerja aja, ndak usah tidur juga gk papa, kalo lagi tidur tidur aja jangan bangun bangun lagi, apalagi kalo lagi nongkrong di jamban juga gak usah diri lagi udah jongkok aja terus disono.

*”Pemirsa” Muke gile lo, udeh sono jangan banyak bacot terusin ceritanya, jangan di potong-potong, mendingan ceritanya bagus. Cerita katrok, ndeso gitu aja dipanjang panjangin. Ndak nyeni’.

“Penulis” Santai masbro, katrok-katro juga cerita owe yang buat. kasih kesempatan ogut atur napas dulu dongk, nanti klo owe bengek siapa yang terusin ceritanya.

“Pemirsa”*udeh, ah lo kuyak, terusin kagak, jangan banyak alesan. Kalo mau selesai ya tuntasi ceritanya, klo kagak udeh jangan berisik. ‘banyak jabir banget nich bocah’.

“Penulis” Oke-okeh dari pada kena sembur sama matkibo mending kita lanjuti aja perjalanan kita, abang-abang ama sista-sita, jangan lupa add aku di bb ya, buat yang cakep dapet bonus jalan-jalan ke eropa, buat yang cantik jadi pacar owe yo, baqor el qornain di fb. hehehhehe.

*”Pemirsa” Idih najis lo, promosi nich ye, noh owe kasih mpok nori mau kagak.

“Penulis” Sori nich masbro, lowongan 35 ke atas tertutup, lo.

*”Pemirsa” eh siapa bilang mpok Nori udeh diatas 40 tahun, die tuh 20 tahun kebawah.

“Penulis” Ya udah kalo begitu buat mas bro aja, sekalian bonus dari owe.”heheheheh”

Minggu, 24 November 2013

*Diambang Batas Keyakinan



Kecupan selaput lembut mega yang berputar-putar mengelilingi sekujur tubuh ini, semakin membuatku gusar. Tidak ada awan maupun matahari merah yang ku nanti, semua sudah hilang tersapu oleh sinar yang datang, entah darimana asalnya, Aku ingin kembali meraih mimpi yang hampir terlupakan ini. Tetapi apalah daya kemampuan tak sepadan dengan pengetahuan yang sedikit lebih banyak terdampar.

Aku mencoba mencari metoda mana yang bisa aku terapkan, seperti anak kunci yang sedang mencocokan lubang satu persatu. Sudah delapan anak kunci yang patah tetapi hingga kini pintu itu tetap belum terbuka. Kepalaku pecah remuk redam seperti mengadu. Semua cairan didalam benak ini sudah busuk dan menimbukan luka bernanah dan tidak aku inginkan, mereka berkutat menggali perasaan bercampur peluh.

Belatung-belatung hitam itu bengkak, mereka mulai menggrogoti pikiranku, mereka sangat mengganggu. Selain tidak membuatku bergerak mereka juga sudah menimbulkan sugesti tentang gegelisahan yang terpendam.

Aku ingin mencari sebuah obat mujarab, mereka bilang padaku sangat sulit untuk ditemukan. Sedangkan aku sudah tidak tahan lagi. Ulat-ulat hitam ini sudah bernanah, mereka mulai menguruskan badanku. Aku hanya bisa terbaring terbelalak, menatap langit impian di ruang gelap bersama si biru. Kami selalu berharap sang rembulan masih tersenyum membuka ruang dimensi untuk berjumpa kembali.

Ini merupakan kisah terpendam akan suatu keadaan maupun kenyataan alami, kenaturalan perasaan dan intuisi. ketika sebuah keyakinan dibenturkan dengan ketetapan. Hanya tinggal kenangan dan keiklasan yang mampu mengiringi kita untuk menghadapi kondisi diambang batas."Lacur, aku benci penghianat" (baqor el Qornain).

Kisah ini sebagain dari memori terpendam yang di bumbuhi realita, beratnya suatu perpisahan seolah menjadi jurang maupun pembatas untuk sebagaian orang melintas. Bukalah fantasi maupun ilusi ini merupakan debu-debu jalanan dan hanya sebagain tragedi.

Ada banyak rasa terpendam didalam jiwa ini, baik itu kegembiraan, kesedihan, kekecewaan, kehampaan bahkan perjuangan untuk menggapai impian. semua itu merupakan polemik yang harus kita hadapi semua, karena kita masih bersifat hidup, bergerak dan tidak hanya diam disuatu tempat.

Sikurus masih tak bergerak ia tetap bernapas dan mengingat berbagai kisah dari bermacam teman karibnya. Ia terlalu meresap mendalam seoalah membuka lembaran hidup satu persatu.

Sabtu, 23 November 2013

*Sebuah Kepergian



Si kurus memainkan kisah demi kisah, sehingga tak olah seonggok kayu yang dimainkan ombak didalam lautan. Pikiranya melayang, ia menjauh dari kehidupan, adapun kisah yang paling teringat ketika sahabatnya pergi meninggalkan mereka dengan kerinduan. Didalam ruang gelap itu, ternyata bayangan teman rupanya datang untuk bertandang. ia mengisahkan berbagai kisah yang terjadi. Seperti berkata inilah saya dahulu, yang mengarungi kehidupan berbatu.

Inilah kisah si tua yang berharap cemas karena cinta si muda, ia terlalu bergeliat didalam nanar ratap. karena si muda terjatuh sakit akibat kembang cintanya di curi. Cintanya terlalu berat karena setelah beberapa tahun menikah akhirnya ia dikarunia buah hati. Mungkin karena kembang terlalu indah sehingga memancing para kumbang untuk mendekat.

Akhirnya kembang mulai melayu, kelopak bunganya mengedip membuat sikumbang semakin tergoda. Rayuan kumbang yang hinggap di mahkota bunga, membuat tangkai itu mulai merunduk, rayuan-rayuan kumbang menggoyangkan pinggul memasukan jarum mulai menghisap sari pati bunga. Ternyata kumbang jantan yang kerap datang sedirian itu mulai kecanduan, sehingga membuat kelopak bunga jatuh berguguran.

Tapi sayang si Muda telat datang ke kebun milikya setelah pulang bepergian untuk mencarikan pupuk untuk si buga agar tetap berkembang. Si buah hati yang masih ditimang kini merengek, mengadukan nasib kepada si Muda tentang cerita kelopak si bunga yang gugur satu persatu.

Si muda hanya bisa membisu dan melapangkan hati, sekaligus berharap si bunga dapat kembali bersinar di bawah mentari pagi. Seperti bisa, si Muda selalu giat bekerja mencarikan pupuk bersubsidi untuk si bunga. Tetapi memang keindahan bunga terlalu memikat hati, sehingga membuat temanya si kumbang jantan ikut mendekat.

Kembali tanggkai bunga itu di goyang-goyangkanya, sehingga membuat bingung si Muda setelah melihatnya. Bunga sudah tidak punya kelopak lagi ia sudah layu menghitam dan mati didalam kemaluan. Si Muda tak bisa menerima kembangya sudah dijatuhkan oleh si kumbang, sehingga ia membiarkan si bunga dan anaknya layu menghilang di bawa si kumbang.

    
Tepat sembilan hari si Muda terdiam. Tetapi tak kunjung merpati putih itu menyampaikan pesan sayang. Kerinduanya akan mentari pagi semkin bergetar, diselingi kekuatan tubuh yang semakin berkurang. ia mulai terjatuh, puluhan hari sudah si kurus berdiam diri didalam gelap. Orang-orang mulai berdatangan satu persatu, seolah menjadi tabib memberikan resep obat. Si Muda menjadi bisu, ia menjadi kaku dan tak mau membuka jati diri yang masih tersesat.

Semua sanak famili sudah mulai berdatangan, melihat si muda yang mau mati mendadak. akibat bersembunyi dalam gelap tanpa sesuap nasi, mereka mulai sedikit bersedih, karena si muda hanya mati suri, napasnya hanya seperempat, sambil menghembusakan kalimat-kalimat yang tak dimengerti.

Tubuhnya pucat, tetapi selalu bersinar didalam gelap, saat mereka menggotong, ribuan tentara langit sudah mulai mengawasi. Mereka berdiri di tepian awan, berjaga jarak disela orang-orang telanjang. ia berharap mereka menyampaikan pesan, dari seonggok tubuh yang kurang makan, tetapi mereka hanya tersenyum, setengah terbang mengusapkan tangan dikepala sambil menghilang.

Hati si Muda mulai berdebar seolah tahu siapa gerangan yang berdiri di tepian awan. Para manusia telanjang membawa si Muda masuk kedalam kendaraan putih, pertanda sebuah suara khas akan di kumandangkan.

Sepanjang jalan si Muda hanya meracau, mengeluarkan kalimat-kalimat cinta yang tak mudah dimengerti. “Dia bilang hanya selalu dekat, tidak terlalu jauh tetapi sangat dekat sekali.” Cacian si Muda yang sedang sekarat.

Sesekali dia menyebut tuhan, seakan berdoa didalam perjalanan, Akibat mengais mimpi yang tak terbeli. Hampir genap empat puluh hari, tidur panjang tanpa nanar itu sudah berlalu. Kini hanya sisa kerangka serta kulit panas yang tersambar dari isi perut tak terisi.

Semua selang dan suntikan sudah menembus di bawah kulit ari putih yang tipis, mereka berusaha menyelamatkan si Muda dari pintu keabadian. Ada seorang tua mengusapi kepalanya dan ada juga yang membaca puji-pujian serta ayat-ayat yang indah. Ada juga yang mengusapi kakinya hingga sekujur tubuh dengan kain handuk agar sedikit nampak basah. Sambil berharap mengurangi panas perut yang terasa sempit dalam ruangan tak terlalu besar.

Mereka sedikit terlelap didalam roda malam yang terus berputar, genggaman tangan mereka sedikit melemah, seolah tahu dan memberikan kesempatan kepada waktu untuk terus berputar. Si Muda tetap membacakan mantra, tak banyak dimengerti oleh semua orang bersama racauanya. Tetapi kali ini hanya satu dua kata yang terucap secara berulang-ulang keluar dari bibir pecah kering itu.”Hampir Sampai,,,hampir Sampai,,,hampir sampai” ujar si Muda datar.

Mantra si Muda akhirnya membangunkan si tua yang terlelap dari mimpi. Tak pelak, mantra aneh itu membuat hatinya menjadi pilu. sambil sesekali menciumi kening sang muda. Remuk redam rasa meledak membuncah hingga membumbung didalam tangisan kelabu.

Semua manusia-manusia telanjang itu mulai mendekati si tua, mereka mulai menyeka air mata dunia yang meledak-ledak dan membasahi pelataran putih. beberapa kali sang tua mengelus dada, mengharapkan tuhan agar berbaik hati. Mantra aneh si Muda tak secepat di ulangi tadi, nadanya merendah, meredamkam pilu sang tua dengan mulut terkunci.

Mereka meraba-raba di depan hidung yang tak bernapas, mengatakan sesuatu kepada sang tua yang sudah terbakar asa agar tidak bersedih. Semua baik-baik saja terjaga dan terkendali. Mereka terlalu lengah menenangkan sang tua, karena saat melihat si Muda, kini sudah menghilang dari peraduanya.

Begitulah sedikit kisah diambang batas, mereka banyak melihat suatu kepergian tanpa belas kasihan. Biarlah hujan itu turun menyirami semua penyesalan ini. Semua akan menjadi saksi dan akan menumbuhkan sebuah cerita kehidupan.

jangan menangis karena ini suratan, janganlah marah ini adalah suatu ketentuan. Biarlah semua jadi saksi akan perjalanan, biarlah tangismu itu berderai, mengusap-usap kerinduan akan kenangan, suatu hari nanti kenangan itu akan memudar meskipun ada segumpalan kenangan indah yang tersisa.

Semua kehidupan akan kembali berjalan normal ketika si muda sudah terbujur. Lambaian kelopak mata coklat tidak lagi melambai, kedipan mata itu kini menjadi pudar berwarna putih. Senyumnya tak lagi nampak, dan suara bisikan manisnya pun sudah tak terdengar.

Hanya bagian golongan orang saja mengenalnya dengan kasih, sedangkan sebagin golongan lagi hanya mengenalnya dengan sayang. Tiada lagi kawanku bercakap-cakap. Dulu ia selalu bicara ini dan itu, kadang juga ia mengungkapkan mimpinya yang terpendam, lukanya yang tergores dan kegemaranya akan sesuatu seperti berbicang hal sepeleh, yang kadang tidak aku mengerti. atau cerita perjalan di suatu tempat yang baru ia temukan, keluh si tua meratapi jasadnya.

Kepergian si Muda hanya meneggetarkan seperempat jagat, sanak famili, saudara handai tolan masih ada sebagian yang belum tahu. Bahuya sudah terbelenggu, cadar itu sudah menutupi ketampanan wajah kuncup dengan bibir membeku. Dan kupastikan semua orang meyakini bahwa ia telah pergi.

Kini hanya tinggalah si tua, merengek disamping sembilu. Tangisnya tak lagi membuncah. Di pegangnya sesekali badan si Muda yang kedinginan, karena udara itu sudah membisu. Apa lagi yang bisa dihara si tua, buah hatinya itu sudah masuk kedalam peraduan, buhur-buhur pakistan sudah mulai dibakar, semerbak harumnya membawa kerinduan klasik di dalam benak si tua. Ada marahnya akan si muda dahulu, ada Tangis Yang ia redam dahulu dan ada juga suka yang dia lihat dahulu. Tapi semua itu kenangan dahulu.

jangan menangis si tua, ini hanya perjalan hidup. Kesendirian itu hanya akan datang sementara, kesedihanmu juga akan menghilang sekejap, mimpimu tentang si Muda hanya akan terulang di beberapa waktu. Hiruplah udara ini, semoga engkau lekas sembuh, jawabanmu masih dibutuhkan oleh sebagian golongan. Redamlah kepedihanmu itu, masih ada sebagian pemuda yang datang meminta engkau menpuk pundaknya.


Rupanya si tua terlalu dendam, amarahnya memuncak ketika seseoarang mengembalikan bunga yang dicuri. Si tua tak sempat berkata-kata, menunjuk agar kembang itu secepatnya dibuang. Hitamnya mentari dipagi itu membuat kelopak bunga yang tak nampak, semakin tersisih.

Si tua geram melemparkan sesuatu ke arah pas buga itu, lalu mengenai si buah cinta yang meranjak tumbuh, sehingga membuatnya gugur dari tangkai bunga. Bunga kini tinggal sendiri ia terusir oleh semua penolakan. Banyak kata-kata cacian dan umpatan mengiringi kepergianya. Mungkin si bunga terlalu jauh terlempar sehingga pas bunga itu ikut pecah berderai terlindas mobil jalanan. Semua mata saat itu terperangah, termasuk si tua yang tak mampu meredam amarah.

Si tua terlalu naik pitam, gemuruh asap hitamnya berdebu, seakan mengebiri semua orang-orang telanjang yang sedang berdiri. Ledakan-leadakan si tua tak kunjung berhenti. Ia tidak menerima si Muda di terkubur bersama buah hati dan si bunga. Ia menunjuk-nunjuk orang-orang jalan-jalanan. Mata si tua masih memerah, selang lima enam langkah menggapai kursi si tua lemas tengkulai terjatuh di lantai.

Orang-orang telanjang mulai mengeluh sambil menggosok dada dan bersabar akan ledakan si tua yang bergemuruh. Semuanya mulai mendekat, mereka merapat melihat si tua tengkulai tak berdiri. Setelah beberapa pemuda dari golonganya memapah, ternyat si tua tidak sanggup untuk mengeluarkan makian lagi.

“Tidak ada kepedihan yang bisa terobati dengan sebuah ketamakan, mereka mencoba melepaskan sebuah kegelisahan di hati, tetapi mereka tidak menemukan jalan tuhan. Sebuah kesimpulan yang mereka ambil dan mereka benarkan, akhirnya mereka ikut hanyut didalam kepedihan”

Si tua memang terlalu rapuh, ia sudah termakan usia sehingga membuat sebagian orang-orang telanjang kebingungan. Mereka bercakap-cakap sambil mengerutu dan ikut mengomentari kejadian, tetapi mereka tidak bisa menentukan suatu pilihan.
 
Suara terbanyak dari sumbangsi orang-orang telanjang ternyata tidak bisa menentukan jalan tuhan, akhirnya si Muda, si kembang si buah hati terkubur bersama, meskipun mereka tidak satu paham maupun satu tujuan. 

Sejumlah tandu sudah disiapkan, sejumlah riasan sudah disiapkan, sejumlah pengiring dan tabuan sudah mulai dimainkan. Kabar si Muda tak seperti yang dibayangkan, ia sekarang berada dibawah batang yang rindang, disampingnya terdapat aliran sungai yang indah, mereka jernih dan mengalir seperti biasa. Banyak orang mengelilingi si muda, mereka semua sangat ingin tahu bagaimana kabar dari pecinta.


PENULIS : ini kisah dari salah satu perjalanan rekan seperjuangan penulis, untuk mengindari kontroversi, alamat tempat dan nama tidak dibahas secara detail. Narasi dari alur cerita lebih diutamakan untuk memberikan kepusan kepada para pembaca, sehingga bisa menyimpulkan sendiri dari asumsi yang mudah dipahami, setiap orang pasti mempunyai pola pemikiran yang berbeda.

Inti dari pembahasan yang dimaksud, kita tidak bisa memvonis sesuatu itu bersalah, meskipun sudah ada kaidah yang mengatur tentang itu, tetapi itu juga bisa dikatakan hanya sebuah asumsi publik saja. Sedangkan keputusan terakhir hanya berada pada kehendak tuhan.

Memang penyesalan selalu datang menyakitkan, kita tidak pernah menyadari sesuatu yang terjadi ketika itu belum datang kepada kita. Pendapat penyesalan selalu berada di ujung perjalanan hanya sesuatu ucapan tanpa kejelasan.

Kita harus berusaha berlapang dada menerima waktu yang sudah menjadi garis pembatas tersediri, perlu kita yakini adanya sesuatu kekuatan besar dibelakang kita.